Tuesday, June 25, 2019

Malaysia IS 2019

Tepat pada tanggal 23 Juni 2019, final Malaysia IS berlangsung dengan wakil yang berasal hanya dari dua negara yaitu Malaysia dan Indonesia. Wakilnya seimbang banget lah, XD All Indonesian Final dan MD All Malaysia Final. Sisanya match Indonesia vs Malaysia.
         Well, pertandingan ini memang kurang menarik dari segi pesertanya tapi tentu masih banyak yang menonton. Terlebih Badminton Lover sejati.
         Hal yang sedikit membuat miris adalah pertandingan WD yang di menangkan oleh Malaysia tetapi tidak dengan cara yang fair. Well done, i think this is really bad in this sport. Hal yang bikin olahraga kesayangan ini tidak suci dan penuh noda adalah kecurangan yang kerap terjadi. Bisa dikatakan bukan pemainnya yang curang tetapi gesture tubuh si pemain benar-benar tidak layak dijadikan panutan. Ribka/Ana adalah wakil Indonesia yang berjuang saat itu. Ribka akhirnya penuh emosi dan menurut gue pribadi itu biasa. Maklum saja mereka masih muda dan pasti menggebu-gebu saat melihat suatu hal yang tak lazim dan tak pantas.
         Permasalahan ini akhirnya menyebar kemana-mana. Beberapa oknum BL dari malaysia mereport akun Instagram Ribka hingga akhirnya akun itu dinonaktifkan. Sebagian beranggapan karena Ribka membawa-bawa bendera Malaysia di Instatorynya. Gue yang melihat Instastory tersebut rasanya gak ada yang cukup menyakitkan a.k.a biasa aja. Ya, tapi tanggapan setiap orang kan beda-beda.
         Hasil final MD yang dimenangkan oleh Leo/Daniel membuat BL Indonesia sedikit redam. Hasilnya dipastikan bahwa Indonesia jadi juara umum setelah WS juga menang. Kemenangan itu tidak membuat netijen Indonesia berhenti menyerang akun BA_Malaysia. Mereka semakin gencar menyerang dan memenuhi kolom komentar di akun itu.
         Tentu saja ini jadi pembelajaran buat semua orang. Sikap dilapangan menjadi hal penting, and karma is exist. Walau begitu tetap saja kata-kata tidak pantas seharusnya jangan diungkapan. Terlebih Malaysia adalah tetangga yang seharusnya Indonesia punya hubungan baik. Ya walau selama ini memang sudah terlalu banyak hal yang membuat Indonesia dan Malaysia semakin renggang dibeberapa hal.
         Wadidaw, mantap jiwa.............

Australia Open 2019

Semua yang terjadi di Australia Open 2019 membuat gue syok. Bagaimana tidak, sektor MD yang digadang-gadang bisa menciptakan All Indonesian Final atau setidaknya memiliki satu wakil di Final tidak tercapai. Mereka yang muda-muda bahkan hanya bisa mengandalkan Daddies yang sudah berumur untuk setidaknya mencapai hasil terbaik masuk Quarter Final.
         Kekalahan Fajri menjadi bahan bullyan netijen di livestreaming, instagram bahkan twitter. Well i think so much BL disappointed for this result. Of course me too. Terlebih kekalahan mereka jauh lebih mengenaskan dibanding kekalahan Wahde. Ya, memang sungguh ironis. Mereka yang disebut sebagai unggulan ketiga sektor MD Indonesia bahkan memberikan performa yang buruk. Kekalahan Wahde sendiri membuat netijen sedikit mengapresiasi mereka karena skor mepet dan deuce yang tercipta di set 2 dan 3. Keberuntungan memang belum memihak kepada mereka.
          Dari kacamata kuda gue, kekecewaan netijen terhadap Fajri sedikit melenceng. Mereka membully Fajar disaat Rian lebih banyak melakukan kesalahan. Mereka menyalahkan sosial media yang sebenarnya tidak punya salah apa-apa. Ibaratnya ya ketika seseorang melintasi rel kereta api dan mati tapi yang disalahin relnya. Koplak gak seeh? wuahaha.
           
           Hal lainnya yang membuat kaget sekaligus bahagia adalah sektor MS yang berhasil menciptakan All Indonesian Final dengan kehadiran Jonathan Cristie dan Anthony Sinisuka Ginting. Ya, ini benar-benar hasil yang membuat BL terkagum-kagum dan bangga. Jika dilihat dari draw yang dilewati, perjuangan Jonathan lebih berat daripada Ginting.Namun bukan hal ini yang membuat gue yakin bahwa Jonathan yang akan menang. Jika kita lihat dari performa Jonathan di 2019 ini maka dapat disimpulkan bahwa dia sedang dalam performa sangat baik dan menanjak ke atas gunung. Lebay amat gueeh..
         Bahkan setelah Asian Games, gue selalu pro Ginting karena gue rasa dia benar-benar yang terbaik saat ini. Tapi pikiran gue berubah di tahun 2019 ini, kelakuan Jonathan di lapangan membuat gue berpikir bahwa anak ini semakin berkembang. Pencapaiannya seakan tidak mau kalah dari Ginting. Ia berhasil mengalahkan Momota, Axelsen dan pemain-pemain top lainnya. You know, dia pasti mau nyusul Ginting.
           Terbukti dong, Australia Open 2019 berhasil dimenangkan Jonathan dengan piala yang dipegang bersama dengan Ginting. Permainan Jonathan sangat bersih dan jauh dari error. Kebalikannya Ginting dipenuhi kesalahan sendiri. And well, Jonathan deserved it. Dia menang dengan rubber set yang cukup membuat fansnya degdegan seperti baru ditembak. Hiyahiyahiya
           Kemenangan ini membuat si Ganteng Jonathan berhasil menyusul ranking Ginting dan menjadi MS 1 Indonesia. Wow, luar biasa gak seeh.. :D
           Kesimpulan yang bisa gue ambil dari sektor MS Indonesia adalah bahwa mereka tidak mau kalah satu sama lain. Keren amat ya. Bisa gue pastiin bahwa di pertandingan selanjutnya Ginting bakal ganas karena ia pasti pengen merebut tahtah MS 1 Indonesia. Siapa sih yang mau tahtahnya diambil alih? Dan pastinya Jonathan pengen terus-terusan bertengger jadi MS 1 Indonesia. Jonathan semakin percaya diri dong dengan dua gelar superseries yang dia dapatkan di tahun 2019 ini. Jadi pilih mana nih? Gue sih terserah aja, do the best aja ya kalian berduahh.
       Jadi mari kita lihat di Indonesia Open 2019 bulan juli ini, siapakah MS yang paling greget? Mampukah Jonathan mempertahankan gelar MS1 dan merebut gelar ketiganya? Ataukah Ginting bisa merebut gelar MS 1 dan mendapat gelar perdananya di tahun 2019 ini? Just let see.